Leave a comment

Indonesia Negara Plagiat?

Indonesia Negara Plagiat?

­­­­­­­­­­­­­­

 Pendidikan Kewarganegaraan

Oleh

Andri Firman Cahyanto

 

PENDAHULUAN

 Semua orang pun pernah mengalami atau pernah melakukan suatu pelanggaran yang dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja. Mulai dari anak kecil dan orang dewasapun yang sudah mengenal hukum dan peraturan yang berlaku. Dimana angka pelanggaran selalu meningkat seiring berjalan waktu,karena kurangnya kesadaran, sikap aphatis (tidak ingin peduli) dan sifat egois seorang saat ini. Hanya peduli dengan dirinya sendiri dan tidak peduli akan hal yang ada di sekitarnya, dan ada berbagai alasan yang lain. Apa lagi membahas tentang semua pelanggaran hukum, norma, dan peraturan yang belaku di Negara Kesatuan Republik Indon esia (NKRI) kita ini. Indonesia adalah penghuni 5 besar dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, dan 60% lebih penduduknya berada di Jawa, terutama Jakarta. Hal ini bisa masuk di logika karena perputaran uang terbanyak memang berada di Jakarta. Dengan sendirinya, angka pertumbuhan para pendatang akan terus meningkat tajam. Namun sepertinya pertumbuhan tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan aparat pemerintah, terutama polisi yang sekarang sudah sangat jauh perbandingannya dengan penduduk, 1:700. Luar biasa, 1 polisi menangani 700 penduduk Jakarta. Keadaan ini sangat menunjang meningkatnya angka pelanggaran dan kriminalitas. Dan memunculkan oponi “Peraturan dibuat untuk di langgar”. Seringkali kita mendengar kalimat itu, lalu pernahkah kita menyadari bahwa tindakan tersebut sering kita lakukan bahkan kita menganggap hal tersebut adalah biasa. Sikap dan prilaku ini bukan hanya saja terjadi di dalam lingkup keseharian kita bahkan hal tersebut dapat pula terjadi di lingkungan masyarakat sekitar kita, sebagai contoh di beberapa tempat seperti di trotoar sering kali kita menemukan kalimat pada papan publikasi yang bertuliskan “Dilarang Membuang Sampah Disini” ternyata masih banyak sampah-sampah yang dibuang sembarangan dan yang paling lucu adalah sampah-sampah tersebut dibuang sembarangan tepat di bawah papan larangan itu. Sebenarnya apa yang di pikirkan oleh seseorang yang melakukan hal tersebut dan apakah ini yang dinamakan dengan kebobrokan moral seseorang. Seharusnya kita menyadari bahwa tindakan itu sangat tidak baik untuk dilakukan karena telah melanggar peraturan dan terkadang kita pun pasti pernah berfikir “kapan negara kita maju?” dari pertanyaan tersebut seharusnya kita instropeksi diri kenapa negara kita tidak maju dan apa yang menyebabkan negara kita tidak maju. Suatu negara maju itu tergantung dari kualitas manusia nya bagaimana negara kita mau maju kualitasnya jika penduduknya nya saja dalam hal yang kecil saja sudah tidak displin baik disiplin di dalam kehidupan sehari-hari maupun disiplin di dalam kehidupan masyarakat. Sebenarnya hal tersebut bukan sepenuhnya salah pemerintah karena pemerintah telah memberikan suatu peraturan agar untuk ditaati bukan untuk dilanggar dan jika pemerintah memberikan peraturan tersebut itu adalah demi kebaikan negara kita agar negara kita tertib.

ISI

Indonesia adalah salah satu Negara tebesar dan terbanyak penduduknya di dunia. Dan merupakan Negara terkaya akan sumber daya alam (SDA), mulai dari emas, minyak, kayu, pertanian, dll. Tapi Indonesia juga di kenal oleh Negara – Negara di dunia karena banyak tukang peniru atau disebut juga dengan plagiat. Mulai dari fashion , acara di TV, style atau gaya hidup, music, sampai teknologi. Orang Indonesiapun kebanyakan sudah mulai tidak sadar akan hadirnya plagiat menjadi salah satu kebudayaan Indonesia. Plagiat sendiri berdasarkan kamus besar bahasa indonesia, plagiat merupakan kata nominal yang berarti pengambilan karangan atau pendapat orang lain dan menjadikan seolah-olah karangan atau pendapatnya itu buatan sendiri. Sebagai contoh menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri, jiplakan. Plagiat menjadi suatu hal yang biasa dalam kehidupan social di Indonesia, bukan lagi malu karena sudah meniru suatu hasil cipta orang malab menjadikan suatu kebanggaan bagi yang melakukan plagiat itu sendiri. Memang tidak adil sekali jika bagi penciptanya jika hasil ciptanya ditiru tanpa ijin pencipta, bahkan lebih parah lagi mencuri hasil ciptanya dan dijadikan hak paten oleh pelaku plagiat. Hal plagiat itu sangat tidak baik sekali meskipun itu hanya meniru kata – kata dari orang lain. Karena itu sudah diatur oleh peraturan yang berlaku di Indonesia. Hukum dan peraturan

Di Indonesia Hak Cipta diatur pada Perundang – Undangan yaitu UU No. 19 tahun 2002 yang berbunyi :

Karya ini berada pada domain publik di Indonesia karena merupakan dokumen pemerintahan, termasuk di antaranya hasil rapat terbuka lembaga negara, peraturan perundang-undangan, pidato kenegaraan atau pidato pejabat pemerintah, putusan pengadilan atau penetapan hakim, dan keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya. Tidak ada hak cipta atas karya ini. (Pasal 13 UU No. 19 Tahun 2002)

 Lingkup Hak Cipta 

  • Hak Eksklusif 

adalah pemegang hak ciptalah yang bebas melaksanakan hak cipta tersebut, sementara orang atau pihak lain dilarang melaksanakan hak cipta tersebut tanpa persetujuan pemegang hak cipta.alam hukum yang berlaku di Indonesia diatur pula “hak terkait”, yang berkaitan dengan hak cipta dan juga merupakan hak eksklusif, yang dimiliki oleh pelaku karya seni , produser rekaman suara, dan lembaga penyiaran untuk mengatur pemanfaatan hasil dokumentasi kegiatan seni yang dilakukan, direkam, atau disiarkan oleh mereka masing-masing (UU 19/2002 pasal 1 butir 9–12 dan bab VII).

Hak-hak eksklusif yang tercakup dalam hak cipta tersebut dapat dialihkan, misalnya dengan pewarisan   atau perjanjian tertulis (UU 19/2002 pasal 3 dan 4). Pemilik hak cipta dapat pula mengizinkan pihak lain melakukan hak eksklusifnya tersebut dengan lisensi , dengan persyaratan tertentu (UU 19/2002 bab V).

Beberapa hak eksklusif yang umumnya diberikan kepada pemegang hak cipta adalah hak untuk:

  • membuat salinan atau reproduksi ciptaan dan menjual hasil salinan tersebut (termasuk, pada umumnya, salinan elektronik ),
  • mengimport dan eksport ciptaan,
  • menciptakan karya turunan atau derivatif atas ciptaan (mengadaptasi ciptaan),
  • menampilkan atau memamerkan ciptaan di depan umum,
  • menjual atau mengalihkan hak eksklusif tersebut kepada orang atau pihak lain.

Contoh studi kasus

Tidak jauh – jauh di mana saya seorang mahasiswa yang mempunyai tugas perkuliahan yang sangat banyak dan bersemangat untuk melakukan perubahan besar bagi Bangsa dan Negara Indonesia, saya sendiripun sadar dan tidak pernah menjadi seorang plagiat. Mulai mengcopy paste suatu tugas meskipun itu sudah di sertai dengan sumber dari copyright tugas tersebut,mendownload lagu,mendownload game, dan semua dilakukan secara online atau dari internet. Apalagi di dukung berkembang teknologi pada saat ini sangat memudahkan saya untuk melakukan plagiat. Itu terjadi bukan karena saya malas atau tidak mau berfikir dan saya hanya diam saja tidak melakukan perubahan dari diri saya, tetapi karena di dukung dengan kemudahan yang ada sekarang. Terlalu terlana dengan keadaan yang ada dan ini yang tidak boleh terjadi  saya dan masyarakat Indonesia, kita tidak harus terbuai oleh fasilatas dan teknologi dan sebaliknya kita harus menghilang rasa atau sifat dari plagiat itu sendiri. Melakukan hal – hal atau inovasi yang baru, berfikir kreatif dan bersemangat untuk membuat perubahan besar yang baik untuk kita dan Negara Indonesia dan menghilangkan cap Negara plagiat dari Indonesia. Dan menurut saya yang seharusnya yang menjadi Negara Plagiat yaitu MALAYSIA. Negara yang biasanya menghak patenkan yang bukan milik atau hasil ciptanya, hanya bisa mencuri kebudayaan atau hasil karya anak bangsa Indonesia. Maka dari itu kita harus berubah yang lebih baik sekarang dan tidak kata terlambat.

Solusi

Solusi dari permasalahan ini cukup sederhana tapi diperlukan kerja yang ekstra. Karena harus merubah pola pikir, kebiasaan yang telah sering dilakukan. Dan bukan hanya takut terhadap resiko jika melakukan plagiat tapi hai harus didasari dari kita sendiri. Mampu berubah yang lebih  baik dan terus kerja keras. Kita hanya ganti dengan hasil – hasil karya yang bias berguna dan tidak bergantung dengan Negara lain. Bukan lagi Negra plagiat tapi menjadi Negara Pencetus atu Pelopor. Dan pencetus atau pelopor ini menjadi kebudayaan kita selalu sampai menjadi yang terbaik.

Kesimpulan    

Plagiat itu salah satu kejahatan yang di atur oleh perundang – undangan yang berlaku di Indonesia. Dimana sangat berpengaruh buruk bagi kemajuan bangsa dan tidak do harapkan menjadi kebiasaan dan kebudayaan Indonesia. Lebih inovatif, kreatif dalam menghasilkan karya- karya baru dan lebih mengahargai karya orang lain. Terus bekerja keras, displin dan tidak mudah menyerah tehadap keadaan.

 Daftar Pustaka

http://tikknara.blogspot.com/2012/05/undang-undang-no19-tahun-2002-hak-cipta.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

wawan's blog dunitro

tempat belajar dan mempelajari

andrifirmanc

A fine WordPress.com site

%d bloggers like this: