Leave a comment

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

   BAB 1

Pendahuluan

A.    Latar Belakang

Kerukunan umat beragama adalah salah satu point yang sangat peting dalam kehidupan social. Dimana harus adanya sinergi antar umat beragama dalam menjaga keutuhan kerukunan umat beragama. Menjaga trus saling menghargai, toleransi dalam menjalankan ibadah tiap masing – masing agama. Tidak ada namanya diskriminasi, intimidasi, provasi untuk menhancurkan keutuhan kerukunan umat beragama.

Khusus Negara Indonesia yang terkenal penduduk terbanyak di dunia yang di dalam mempunyai keragaman yang berbeda – beda, mulai dari agama, suku, ras, kepercayaan yang beragam. Tidak dipungkir bahwa dibutuhkan kerja yang keras untuk menjaga kerukanan di Inonesia, dan mucullah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang mempunyai makna meski berbeda tetapi tetap satu jua. Karena Persatuan adalah salah kunci dimana kita bias mencegah adanya kerusakan kerukunan umat beragama. Mulai dari nenek moyang Indonesiapun sudah menjaga keutuhan ini, tidak peduli mereka berasal dari mana. Yang terpenting kita adalah Indonesia yang satu dan tidak akan terpecahkan

            Tujuan Makalah

 Tujuan Makalah ini diantaranya sebagai berikut:

 1.     Memenuhi tugas mata kuliah SOFT SKILL UNIVERSITAS GUNADARMA.

 2.     Membedah teori dan kebenaran dilapangan tentang Kerukunan Umat Beragama, khususnya kerukunan umat beragama di Indonesia.Rancangan RUU Kerukunan umat beragama.

 3.     Menumbuhkan kesadaran hidup bermasyarakat dan saling menghargai perbedaan yang ada, tidak mempentingkan kepentingan individual tapi mementingkan kebersamaan menuju Persatuan Indonesia.

 

BAB II

ISI

 1.1 Rancangan RUU Kerukunan Umat Beragama

Demi menjaga keutuhan umat beragama Indonesia diperlukan yang namanya perundang – undang  yang mengatur hal tersebut. Karena itu sangat penting dalam menjaga kerukunan dan mencegah adanya diskriminasi, initimidasi, provokasi pada umat agama.Kementerian Agama Abdurrachman Mas`ud mengatakan, Rancangan Undang-undang (RUU) dalam acara “Deputy Meets The Press”yang diselenggarakan Kementerian Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat di Jakarta. Dia mengatakan, pada saat ini RUU masih dalam proses penggondokan dan pembahasan naskah akademis. Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Menko Kesra bidang Pendidikan, Agama dan Aparatur Negara, Syihabuddin, dalam acara yang sama mengatakan, rancangan Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama memerlukan telaah akademis dan penelitian studi kasus. “Hal itu dibutuhkan agar dapat menjawab persoalan substantif,” katanya. Karena itu, menurut, Syihabuddin, RUU Kerukunan Umat Beragama tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru. “Penyusunan RUU tersebut harus bias memberikan perbaikan dan kemaslahatan serta mengakomodir semua yang dibutuhkan umat beragama,” katanya.Dalam acara yang mengusung tema “Memelihara Kerukunan Berbasis Landasan Teologis, Pendidikan Multikultural dan Etika” itu Syihabuddin mengatakan bahwa kondisi toleran yang ideal
adalah menikmati keberagaman yang disumbangkan setiap agama.

Perlu dikaji Jika ada payung hukum, diharapkan berbagai kasus kekerasan antarumat beragama bisa diatasi dengan lebih cepat. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan, pemerintah sedang memikirkan untuk membuat RUU KUB. Hal itu akan menjadi payung hukum bagi pemerintah dalam mencegah dan menindak kemungkinan munculnya konflik antarumat beragama di Indonesia. Dengan begitu, penanganan kekerasan atas nama agama bisa lebih cepat dan tidak bersifat reaktif setelah peristiwa terjadi. “Karena itu, perlu kajian mendalam. Materinya masih dikaji, termasuk kajian akademis. Intinya akan mencakup dua hal, yaitu pencegahan dan penindakan konflik antarumat beragama. Ini masih tahap awal,” tambahnya. Sementara itu, Kementerian Agama, Suryadharma Ali mengatakan, sebenarnya kualitas kerukunan antarumat beragama di Indonesia sudah cukup baik. Setidaknya itu terlihat dari tokoh-tokoh agama yang tidak menginginkan konflik. Mereka juga saling menghormati satu sama lain.Prinsip utama yang melandasi penyusunan UU tersebut nantinya antar yang lain semangat dan komitmen hidup saling hormat dan menghormati, larangan menghina ajaran dan pemeluk agama lain. Saat ini draf RUU yang kini sedang dirumuskan dan menjadi inisiatif DPR, kata Menteri Agama, Suryadharma Ali, menitikberatkan pada pengaturan hubungan antarumat beragama.

Dari segi teknis, lanjutnya, UU akan menertibkan pendirian rumah ibadah. Pembangunan rumah ibadah, mesti disesuaikan dengan rasio dan tingkat kebutuhannya. Hal ini mengingat, pendirian rumah ibadah yang hanya didasari oleh kemampuan finansial bisa menimpulkan rasa tak nyaman bagi penganut agama lain. Apalagi bila ditengarai rumah ibadah tersebut tidak memiliki banyak penganut atau bahkan tidak terdapat sama sekali.

Disinggung soal draft RUU KUB versi pemerintah, dia menjelaskan hingga kini belum melakukan penyusunan. Pasalnya, pemerintah belum menerima konsep dan draft RUU inisiatif DPR. “Tapi komunikasi intens dengan DPR telah diupayakan,” katanya.

Sedangkan landasan etis pemeliharaan kerukunan di antaranya bentuk interaksi, kesatuan asal manusia, kehormatan manusia, berbuat baik dan adil kepada sesama manusia,” katanya. Dalam segala perdebatan yang ada Indonesia sangat membutuhkan RUU tersebut dan demi menjalankan pengalaman Pancasila Sila ke-1 dan ke-3. Indonesia harus menjadi kesatuan yang utuh tanpa adanya kerusuhan, tetapi kedamain dan kerukunan dalam umat beragama.

 

1.2 Berbagai Perspektif Pluralisme Agama

Berbicara tentang hubungan antar agama, wacana pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri  dimaknai secara berbeda-beda di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara sosiologis, teologis maupun etis.

Secara sosiologis, pluralisme agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda. Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh M. Rasjidi bahwa agama adalah masalah yang tidak dapat ditawar-tawar, apalagi berganti. Ia mengibaratkan agama bukan sebagai (seperti) rumah atau pakaian yang kalau perlu dapat diganti. Jika seseorang memeluk keyakinan, maka keyakinan itu tidak dapat pisah darinya.  Berdasarkan keyakinan inilah, menurut Rasjidi, umat beragama sulit berbicara objektif dalam soal keagamaan, karena manusia dalam keadaan involved (terlibat). Sebagai seorang muslim misalnya, ia menyadari sepenuhnya bahwa ia  involved (terlibat) dengan Islam. Namun, Rasjidi mengakui bahwa dalam kenyataan sejarah masyarakat adalah multi-complex yang mengandung religious pluralism, bermacam-macam agama. Hal ini adalah realitas, karena itu mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri, dengan mengakui adanya religious pluralism dalam masyarakat Indonesia.

Dapat dicermati bahwa Rasjidi tidak memandang adanya pertemuan  dalam masalah-masalah teologis. Pandangan pluralismenya tidak berarti adanya  pertemuan dalam hal keimanan, namun hanya merupakan pengakuan atas keberadaan agama-agama lain. Pandangan pluralismenya tidak sampai masuk pada perbincangan tentang kebenaran-kebenaran yang ada di dalam agama lain. Ia sama sekali tidak menyinggung tentang hal itu. Namun demikian, ia juga tidak memandang kesalahan-kesalahan ajaran teologis dari agama lain. Kritiknya terhadap agama lain adalah kritik sosial, dalam arti bahwa ia mengritik praktek-praktek misi atau zending dari agama Kristen. Ia mengritik aktivitas misi atau zending tersebut. Ia tidak mengritik berbagai ajaran teologis yang ada di dalam agama Kristen.

Karena itulah pola yang dipakai Rasjidi adalah pola responsif atas persoalan yang  berkembang, misalnya tentang kristenisasi, sehingga terkesan defensif. Apa yang dikemukakannya adalah sebuah pembelaan, sebuah dialog bertahan, bukan menyerang. Pembelaan Rasjidi atas berbagai persoalan yang menimpa umat Islam disampaikan secara terus-terang dan terbuka, bahkan kadang kalah  tidak dapat menghindari munculnya tuduhan, tudingan dalam  dalam hal-hal yang empirik (aktual). Ia tidak pernah menutupi sesuatu pun, meskipun hal itu terasa pahit dan keras, misalnya tentang apa yang dilakukan oleh umat Kristen.

Terdapat kesan bahwa pandangan tentang absolutisme agama didasarkan oleh kandungan ajaran bahwa pemeluk agama tidak dapat objektif terhadap kebenaran lain. Bagi umat Islam barangkali didasarkan pada ajaran bahwa “agama yang paling benar di sisi Allah adalah Islam”.

Pengakuan pluralisme secara sosiologis ini juga dikemukakan oleh Mukti Ali. Mukti Ali secara sosial tidak mempersoalkan adanya pluralisme, dalam pengakuan-pengakutan sosial, tetapi ia sangat tegas dalam hal-hal teologis. Ia menegaskan bahwa  keyakinan terhadap hal-hal teologis tidak bisa dipakai hukum kompromistis. Oleh karena itu, dalam satu persoalan (objek) yang sama, masing-masing pemeluk agama memiliki sudut pandang yang berbeda-beda, misalnya pandangan tentang al-Qur’an, Bibel, Nabi Muhammad, Yesus dan Mariam.

Menurutnya, orang Islam melakukan penghargaan yang tinggi terhadap Mariam dan Jesus. Hal itu merupakan bagian keimanan orang Islam. Orang Islam sungguh tidak dapat mempercayai (mengimani) ketuhanan Jesus Kristus tetapi mempercayai  kenabiannya sebagaimana Nabi Muhammad. Kemudian, orang Islam juga tidak  hanya memandang al-Qur’an tetapi  juga Torah dan Injil sebagai Kitab Suci (Kitabullah). Yang menjadi persoalan, apakah Kitab Bibel yang ada sekarang ini otentik atau tidak, dan apakah seluruhnya merupakan wahyu Tuhan. Hal ini bukan berarti bahwa orang Islam  selalu menolak Wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Musa, Isa atau rasul-rasul lain, meskipun orang Islam tidak bisa mengakui bahwa Bibel sebagaimana sebelum mereka hari ini terdiri dari Kalam Tuhan seluruhnya. Namun demikian, orang Islam percaya bahwa Bibel  memuat/mengandung  Kalam Tuhan.

Tampak Mukti Ali ingin menegaskan bahwa masing-masing agama memiliki keyakinan teologis yang tidak bisa dikompromikan. Islam memiliki keimanan sendiri, bahkan termasuk mengenai hal-hal yang diyakini oleh umat agama lain, misalnya konsep tentang Nabi Isa. Begitu juga, Kristen memiliki keimanan sendiri, bahkan termasuk mengenai hal-hal yang  diyakini oleh Islam, misalnya konsep tentang Nabi Muhammad.

Jadi, pengakuan tentang pluralismenya berada pada tataran sosial, yakni bahwa secara sosiologis kita memiliki keimanan dan keyakinan masing-masing. Persoalan kebenaran adalah persoalan dalam wilayah masing-masing agama.

Mukti Ali menjelaskan bahwa ada beberapa pemikiran diajukan orang untuk mencapai kerukunan dalam kehidupan beragama. Pertama, sinkretisme, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Kedua, reconception, yaitu menyelami dan meninjau kembali agama sendiri dalam konfrontasi dengan agama-agama lain. Ketiga, sintesis, yaitu menciptakan suatu agama baru yang elemen-elemennya diambilkan dari pelbagai agama, supaya dengan demikian tiap-tiap pemeluk  agama merasa bahwa sebagian dari ajaran agamanya telah terambil dalam agama sintesis (campuran) itu. Keempat, penggantian, yaitu mengakui bahwa agamanya sendiri itulah yang benar, sedang agama-agama lain adalah salah; dan berusaha supaya orang-orang yang lain agama masuk dalam agamanya. Kelima, agree in disagreement (setuju dalam perbedaan), yaitu percaya bahwa agama yang dipeluk itulah agama yang paling baik, dan mempersilahkan orang lain untuk mempercayai bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling baik. Diyakini bahwa antara satu agama dan agama lainnya, selain terdapat perbedaan, juga terdapat persamaan.

Mukti Ali sendiri setuju dengan jalan  “agree in disagreement”. Ia mengakui jalan inilah yang penting ditempuh untuk menimbulkan kerukunan hidup  beragama. Orang yang beragama harus percaya bahwa agama yang ia peluk itulah agama yang paling baik dan paling benar, dan orang lain juga dipersilahkan, bahkan dihargai, untuk percaya dan yakin bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling baik dan paling benar.   Wacana pluralisme agama Djohan Effendi berbeda dengan pluralisme Rasjidi dan Mukti Ali di atas. Pengakuan pluralisme Djohan Effendi bukan hanya pengakuan secara sosiologis bahwa umat beragama berbeda, tetapi juga pengakuan tentang titik temu secara teologis di antara umat beragama.  Djohan tidak setuju dengan absolutisme agama. Ia membedakan antara agama itu sendiri dengan keberagamaan manusia. Pengertian antara agama dan keberagamaan harus dipahami secara proporsional. Menurutnya, agama –terutama yang bersumber pada wahyu, diyakini sebagai bersifat ilahiyah. Agama memiliki nilai mutlak. Namun, ketika agama itu dipahami oleh manusia, maka kebenaran agama itu tidak bisa sepenuhnya ditangkap dan dijangkau oleh manusia, karena manusia sendiri  bersifat nisbi. Oleh karena itu, kebenaran apapun yang dikemukakan oleh manusia –termasuk kebenaran agama yang dikatakan oleh manusia—bersifat nisbi, tidak absolut. Yang absolut adalah kebenaran agama itu sendiri, sementara kebenaran agama yang dikatakan oleh manusia itu nisbi. Kebenaran absolut itu hanya bisa diketahui oleh ilmu Tuhan.

Dengan bahasa lain, Greg Barton menyebut bahwa Djohan Effendi menolak absolutisme agama dan mengakui pluralisme agama

Djohan mengemukakan:

Sebagai makhluk yang bersifat nisbi, pengertian dan pengetahuan manusia tidak mungkin mampu menjangkau dan menangkap agama sebagai doktrin kebenaran secara tepat dan menyeluruh. Hal itu hanya ada dalam ilmu Tuhan. Dengan demikian apabila seorang penganut mengatakan perkataan agama, yang ada dalam pikirannya bukan hanya agama sendiri, akan tetapi juga aliran yang dianutnya, bahkan pengertian dan pemahamannya sendiri. Oleh karena itu, pengertian dan pemahamannya tentang agama jelas bukan agama itu sendiri dan karena itu tidak ada alasan untuk secara mutlak dan a priori menyalahkan pengertian dan pemahaman orang lain.”

            Pemikiran pluralisme Djohan Efendi  berangkat dari suatu pemahaman bahwa dakwah (baik Islam maupun Kristen) adalah sesuatu yang penting, tapi ia kurang setuju jika keberagamaan seperti itu bertolak dari pandangan keagamaan yang bersifat mutlak dan statis (menganggap bahwa kebenaran atau keselamatan menjadi klaim satu kelompok). Dari sinilah, menurut Djohan, dialog merupakan sesuatu yang esensial untuk merangsang keberagamaan kita agar tidak mandeg dan statis.  Sekali lagi, Djohan tidak menyetujui absolutisme agama, sehingga paksaan atau kekerasan apapun tidak boleh mendapat tempat di dalam usaha-usaha dakwah. Dalam hal ini, yang  dibutuhkan adalah sikap moderat dan liberal terhadap iman lain. Dari situlah, teologi kerukunan akan bisa terwujud. Djohan mengemukakan:

 “Dengan pendekatan dan pemahaman yang menyadari sepenuhnya akan keterbatasan dan ketidakmutlakan manusia, boleh jadi bisa dikembangkan semacam Teologi Kerukunan, yaitu suatu pandangan keagamaan yang tidak bersifat memonopoli kebenaran dan keselamatan, suatu pandangan keagamaan yang didasarkan atas kesadaran bahwa agama sebagai ajaran kebenaran tidak pernah tertangkap dan terungkap oleh  manusia secara penuh dan utuh, dan bahwa keagamaan seseorang pada umumnya, lebih merupakan produk, atau setidak-tidaknya pengaruh lingkungan.”

Djohan membuat garis pembatas yang tegas antara agama dan keberagamaan. Kedua hal ini tidak dapat dicampuraduk. Ia tidak setuju terhadap pandangan keagamaan seseorang –sebagai suatu keberagamaan– yang dianggap bersifat absolut.  Absolutisme keberagamaan adalah tidak benar. Berbagai persoalan yang menimpa umat  beragama sering kali disebabkan adanya pandangan bahwa keberagamaan seseorang sebagai satu-satunya yang paling benar, sementara keberagamaan orang lain salah.  Inilah yang kemudian menumbuhsuburkan adanya misi, zending, dakwah dan semacamnya.

Menurutnya, Islam secara tegas memberikan kebebasan sepenuhnya kepada manusia dalam masalah agama dan keberagamaan. Ia merujuk ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa “tak ada paksaan dalam agama.” Ia juga merujuk ayat yang menunjukkan  bahwa Tuhan mempersilahkan siapa saja yang  mau beriman atau kufur terhadap-Nya. Menurutnya, Islam sama sekali tidak menafikan agama-agama yang ada. Islam mengakui eksistensi agama-agama tersebut dan tidak menolak nilai-nilai ajarannya. Kebebasan beragama dan respek terhadap agama dan kepercayaan orang lain adalah ajaran agama, disamping itu memang merupakan sesuatu yang penting bagi masyarakat majemuk. Dengan demikian, membela kebebasan beragama bagi siapa saja dan menghormati agama dan kepercayaan orang lain dianggap sebagai bagian dari kemusliman.  Ia merujuk ayat al-Qur’an yang menyatakan keharusan membela kebebasan beragama yang disimbolkan dengan sikap mempertahankan rumah-rumah ibadah seperti biara, gereja, sinagog, dan masjid.

Hal yang sama juga dikemukan oleh Nurcholis Madjid. Ia mengemukakan ketidaksetujuannya dengan absolutisme, karena absolutisme adalah pangkal dari segala permusuhan. Ia mengatakan:

“Petunjuk konkret lain untuk memelihara ukhuwah adalah tidak dibenarkannya sama sekali suatu kelompok dari kalangan orang-orang beriman untuk memandang rendah atau kurang menghargai kelompok lainnya, sebab siapa tahu mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah. Ini mengajajarkan kita –dalam pergaulan dengan sesama manusia, khususnya sesama kalangan yang percaya kepada Tuhan—tidak melakukan absolutisme, suatu pangkal dari segala permusuhan.”

Nurcholish menegaskan betapa pentingnya kehidupan beragama. Ia tidak menjelaskan secara tegas apakah yang dimaksud agama di sini adalah agama Islam saja. Artinya, agama yang dimaksud adalah agama secara umum. Namun, dengan bahasa yang dialektis, ia melakukan otokritik terhadap pemeluk agama. Ia mengakui bahwa dalam agama-agama, lebih tepatnya, dalam lingkungan para penganut agama-agama, selalu ada potensi kenegatifan dan perusakan yang amat berbahaya.

Nurcholish melihat bahwa peta tahun 1992 sedang ditandai oleh konflik-konflik dengan warna keagamaan. Diakui, agama memang bukan satu-satunya faktor,  tapi jelas sekali bahwa pertimbangan keagamaan dalam konflik-konflik itu dan dalam eskalasinya sangat banyak memainkan peran. Setiap warna keagamaan dalam suatu konflik seringkali melibatkan agama formal atau agama terorganisir (organized religion)

1.3 Kerukunan Umat Beragama di Jombang

 Klenteng Hong San Kiong terletak di desa Gudo, kabupaten Jombang. Tempat ini dikenal sebagai lokasi sembahyang bagi pemeluk Tri Dharma yaitu agama Budha, Konghucu dan Tios.

Selain itu, klenteng yang letaknya bersebelahan dengan kantor Polsek Gudo ini berfungsi sebagai balai pengobatan. Sisi uniknya adalah yang boleh berobat kesini bukan hanya pemeluk Tri Dharma saja, namun warga muslim di sekitar klenteng juga boleh berobat. Inilah salah satu bentuk dan symbol kerukuna beragama di kota jombang.

Pengurus klenteng yang diyakini dibangun pada tahun 1700 ini dan warga hidup berdampingan secara rukun karena mereka hidup berdekatan dalam satu lokasi Klenteng ini dipercaya dibangun ratusan tahun yang lalu dan saat ini dilengkapi aneka fasilitas umum, misal lapangan bulutangkis. Dan masyarakat ikut bergotong royong membangun klenteng yang menjadi symbol perdamain lintas agama.

            Terdapat beberapa altar dewa yang disembah. Yang pertama Kong Co Kong Tik Tjoen Ong yang altarnya di tengah ruang depan. Lalu ada Dewa Bumi Kong Co Hong Tik Tjoen Sing yang terletak di sebelah kiri. Tak jauh di sebelah kiri Dewa Bumi terdapat Dewa Langit Kong Co Hyang Tfian Sing Tee. Di sisi kanan terdapat altar Dewa Kebenaran Kwan Sing Tee Koen. Dan di bawah tempat perostorahatan rumah dewa trdapt kendaraan Kong Cu Kong Tik Tjoen Ong yang disebut Bing Ciang Koen.

1.4 Kerukunan Antar Umat Beragama Perlu Dilestarikan

Jombang – Kerukunan dan toleransi antar umat beragama perlu dijaga dan dilestarikan. Kerukunan dan toleransi yang terus terjaga dalam kehidupan beragama akan dapat menciptakan kedamaian di muka bumi. Demikian disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang, KH. Cholil Dahlan, Sabtu (12/9) petang.
“Kerukunan antar umat beragama yang sudah berjalan selama ini perlu kita pertahankan,” katanya seusai menghadiri acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh kelompok lintas etnis dan agama Jombang.

Menurut Cholil Dahlan, sikap toleran dan menghargai perbedaan keyakinan harus tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Toleransi atas perbedaan keyakinan yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari akan dapat membantu terciptanya kedamaian diatas muka bumi. “Kalau perlu sikap toleran dan menghargai perbedaan ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar wakil Rois Syuriah PCNU Jombang ini. Ia menambahkan, maraknya aksi terorisme atas nama jihad yang terjadi beberapa waktu lalu diharapkan tidak menjadi pemicu konflik antar agama. Dikatakannya, jihad yang sesuai dengan ajaran islam adalah jihad yang tidak menimbulkan kerugian dan kesengsaraan sesama. “Jihad itu untuk kemashlahatan umat. Tapi kalau jihadnya malah menyengsarakan orang lain, itu jihad yang ngawur,” tandas Cholil Dahlan.

Wakil Bupati Jombang, Widjono Soeparno, berharap kerukunan antar umat beragama yang terjalin erat selama ini agar dijaga dan dilestarikan. “Kerukunan antar umat beragama di Jombang ini sudah terjalin lama. Mari kita pertahankan situasi yang kondusif ini. Jangan hanya karena berbeda keyakinan, lantas kita menjadi terpecah belah,” ujarnya.

Berbicara dihadapan ratusan tukang becak, juru parkir, kelompok lintas agama dan etnis dalam acara buka puasa dan do’a bersama untuk kesehatan Gus Dur, Widjono mengatakan, kerukunan antar umat beragama hendaknya tidak hanya terjadi dalam momentum tertentu, tetapi tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

1.5  Upaya Mempertahankan Kerukunan dan Toleransi

Sementara itu, acara buka puasa dan doa bersama untuk kesehatan Gus Dur di Aula Makodim 0814 Jombang, Sabtu (12/9) petang, yang digelar oleh Persaudaraan Lintas Agama dan Etnis (Prasasti), Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) serta Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jombang, dimaksudkan untuk mempertahankan kerukunan dan sikap toleransi antar umat beragama di Kabupaten Jombang.

Menurut Ketua Prasasti, Pdt. Eddy Kusmayadi, kerukunan dan toleransi antar umat beragama yang sudah terjalin perlu dijaga dan dilestarikan. Meski berbeda agama dan aliran, masyarakat sebagai bagian dari komponen bangsa harus tetap bersatu agar bangsa Indonesia tidak terpecah belah. “Kita berharap, kerukunan (antar umat beragama) ini tetap terjaga sampai kapanpun,” katanya.

Direktur Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LINK), Aan Anshori, menambahkan, sikap toleran atas perbedaan agama, aliran maupun etnis menjadi harga mati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang majemuk. “Kalau ada seseorang atau kelompok yang tidak mau menghargai perbedaan keyakinan, sama artinya dengan dia tidak mau menghargai undang-undang Negara,” katanya.

 DAFTAR PUSTAKA

agussiswoyo.net/obyek-wisata/klenteng-hong-san-kiong-simbol-kerukunan-antar-beragama/

http://urldink.blogspot.com/2010/09/makalah-ilmu-sosial-dasar-kebebasan-dan_6810.html

http://reformata.com/news/view/6285/mengevaluasi-ruu-kerukunan-umat-beragama

http://dk-insufa.info/en/demokrasi-dan-ham/75-kerukunan-antar

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

wawan's blog dunitro

tempat belajar dan mempelajari

andrifirmanc

A fine WordPress.com site

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: